Sebelum membahas lebih dalam bagaimana
pentingnya analisis prediksi kebangkrutan maka kita perlu memahami terlebih
dahulu apa itu Kebangkrutan? Ada beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya
mengenai pengertian kebangkrutan salah satunya adalah menurut beberapa ahli
seperti dibawah ini :
Kebangkrutan
(ALTMAN)
Salah satu aspek pentingnya analisis
terhadap laporan keuangan dari sebuah perusahaan adalah kegunaannya untuk
meramal kontinuitas atau kelangsungan hidup perusahaan. Prediksi akan
kontinuitas perusahaan sangat penting bagi manajemen dan pemilik perusahaan
untuk mengantisipasi kemungkinan adanya potesi kebangkrutan, karena
kebangkrutan berarti menyangkut terjadinya biaya-biaya, baik biaya langsung
maupun biaya tidak langsung. Kebangkrutan perusahaan banyak membawa dampak yang
begitu berarti, bukan Cuma untuk perusahaan itu sendiri tetapi juga terhadap
karyawan, investor dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam kegiatan operasi
perusahaan.
Kebangkrutan biasanya diartikan
sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi perusahaan untuk
menghasilkan laba. Kebangkrutan juga sering disebut likuiditas perusahaan atau
penutupan perusahaan atau insolvabilitas.
Kebangkrutan sebagai kegagalan didefinisikan dalam
beberapa arti (Martin et.al, 1995 : 376) :
1. Kegagalan ekonomi (economic failure). Kegagalan dalam arti ekonomi biasanya berarti bahwa perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak menutup biayanya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dar perusahaan tersebut jatuh di bawah arus kas yang diharapkan. Bahkan kegagalan dapat juga berarti bahwa pendapatan atas biayahistoris dari investasinya lebih kecil daripada biaya modal perusahaan.
2. Kegagalan keuangan (financial failure). Kegagalan keuangan bisa diartikan sebagai insolvensi yang membedakan antara dasar arus kas dan dasar saham. Insolvensi atas dasar arus kas ada dua bentuk :
1. Kegagalan ekonomi (economic failure). Kegagalan dalam arti ekonomi biasanya berarti bahwa perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak menutup biayanya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dar perusahaan tersebut jatuh di bawah arus kas yang diharapkan. Bahkan kegagalan dapat juga berarti bahwa pendapatan atas biayahistoris dari investasinya lebih kecil daripada biaya modal perusahaan.
2. Kegagalan keuangan (financial failure). Kegagalan keuangan bisa diartikan sebagai insolvensi yang membedakan antara dasar arus kas dan dasar saham. Insolvensi atas dasar arus kas ada dua bentuk :
a.
Insolvensi teknis (tecnhcal
insolvencyI).
Perusahaan dapat dianggap gagal jika
perusahaan, tidak dapat memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo. Walaupun
total aktiva melebihi total utang atau terjadi bila suatu perusahaan gagal
memenuhi salah satu atau lebih kondisi dalam ketentuan hutangnya seperti rasio
aktiva lancar terhadap utang lancar yang telah ditetapkan atau rasio kekayaan
bersih terhadap total aktiva yang disyaratkan. Insolvensi teknis juga terjadi bila
arus kas tidak cukup untuk memenuhi pembayaran bunga pembayaran kembali pokok
pada tangga tertentu.
b.
Insolvensi dalam pengertian kebangkrutan.
Dalam pengertian ini kebangkrutan didefinisikan dalam
ukuran sebagai kekayaan bersih negatif dalam neraca konvensional atau nilai
sekarang dari arus kas yang diharapkan lebih kecil dari kewajiban. Likuidasi
merupakan suatu proses yang berakhir pada pembubaran perusahaan sebagai suatu
perusahaan. Likuidasi lebih menekankan pada aspek status yuridis perusahaan
sebagai suatu badan hukum dengan segala hak-hak dan kewajiban. Likuidasi atau
pembubaran perusahaan senantiasa berakibat penutupan usaha akan tetapi
likuidasi tidak selalu berarti perusahaan bangkrut.
Kebangkrutan
dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan sebagai suatu keadaan atau
situasi dimana perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi
kewajiban-kewajiban kepada debitur karena perusahaan mengalami kekurangan dan
ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau melanjutkan usahanya sehingga tujuan
ekonomi yang ingin dicapai oleh perusahaan tidak dapat dicapai yaitu profit,
sebab dengan laba yang diperoleh perusahaan bisa digunakan untuk mengembalikan
pinjaman, bisa membiayai operasi perusahaan dan kewajiban-kewajiban yang harus
dipenuhi bisa ditutup dengan laba atau aktiva yang dimiliki.
Pengukuran atas
kinerja perusahaan dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya yaitu
dengan mengukur kinerja keuangan yang dapat dilakukan dengan melakukan analisis
terhadap laporan keuangan yang dilaporkan perusahaan setiap periode. Melalui
berbagai metode yang sudah ditemukan, analisis terhadapa laporan keuangan dapat
memberikan informasi yang bermanfaat untuk mengetahui kondisi keuangan
perusahaan dan kinerja keuangan suatu perusahaan yang sedang berjalan, dan
sebagai alat untuk memprediksi kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan
datang. Hal tersebut dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan.
Selain bermanfaat bagi perusahaan
informasi kebangkrutan juga dapat bermanfaat bagi beberapa pihak, diantaranya
yaitu sebagai berikut :
1.
Pemberi Pinjaman
(pihak Bank). Iformasi kebangkrutan dapat bermanfaat untuk mengambil keputusan
siapa yang akan diberi pinjaman, dan kemudian bermanfaat untuk kebijakan
monitor pinjaman yang ada.
2.
Investor. Informasi
kebangkrutan perusahaan sangat penting bagi investor karena investor memiliki
kepentingan melihat adanya kemungkinan bangkrut atau tidaknya suatu perusahaan
yang menjual surat berharga berupa saham atau obligasi tersebut.
3.
Pihak
pemerintah. Meskipun tidak semua sektor usaha diawasi oleh pemerintah tetapi
ada beberapa sektor usaha dimana lembaga pemerintah mempunyai tanggungjawab
untuk mengawasi jalannya usaha tersebut ( misalnya pada sektor perbankan).
4.
Akuntan. Akuntan
memiliki kepentingan pada informasi kelangsungan hidup suatu perusahaan (usaha)
karena akuntan akan menilai kemampuan Going
Concern suatu perusahaan.
5.
Manajemen.
Kebangkrutan berarti munculnya biaya-biaya yang berkaitan dengan kebangkrutan
dan biaya ini cukup besar. Suatu penelitian menunjukan biaya kebangkrutan bisa
mencapai 11-17% dari nilai perusahaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar